Rumah Besar Di Ujung Jalan

Siang itu aku merasa lapar. Lapar sekali. Sudah 2 hari ini aku tak menemukan makanan. Telah kucoba mengetuk beberapa pintu, namun hanya usiran yang kudapat. Telah kucoba menunggu sisa buangan dari rumah makan, namun selalu kalah cepat dengan si kaki empat.

Hingga akhirnya tinggal ini satu-satunya rumah yang belum kucoba. Rumah besar di ujung jalan. Rumah itu besar sekali, membuatku tak punya nyali. Tapi kali ini harus kucoba.

Kuketuk sekali, tak ada jawaban. Dua kali, tak ada jawaban. Hampir saja kubalikkan badan ketika kudengar panggilan dari dalam rumah. Namun pintu yang besar itu tetap tak terbuka. Setelah panggilan yang ketiga, baru kuberanikan diri untuk mendorong pintunya. Ternyata tak terkunci!

Kulangkahkan kakiku ke dalam. Tak pernah kulihat rumah yang begitu besarnya. Langit-langitnya begitu tinggi. Jendela besar berjajar-jajar dengan kaca berwarna-warni. Sungguh indah.

Disana kulihat seorang bapak. Penampilannya bijak dan berwibawa. Melihatnya saja sudah membuatku damai. Segera pula aku merasa senang. Perasaan lapar dan haus langsung sirna. Entah mengapa. Bapak itu mengajakku berbincang. Kami berbincang dan berbincang. Tak pernah kurasa begitu nyaman. Hingga matahari terbenam dan aku pun beranjak pulang.

Hari itu aku tak lagi lapar. Aku bersenandung senang seolah mendapat mainan.

Besoknya aku kembali kesana. Sekedar berbincang-bincang. Namun saat sore menjelang, mulai banyak orang berdatangan. Aku jadi bingung, apakah mereka akan berpesta? Tapi aku tak diundang sehingga aku ingin segera pergi saja. Namun bapak yang punya rumah berkata, bahwa aku juga diundang. Tentu saja aku senang, belum pernah aku diundang pesta!

Tapi aku juga punya rasa. Tak ada seorangpun mau duduk denganku. Mereka memandang menghina, bahkan ada yang mencibir jelas. Mereka menutup hidung dan mengibas tangan. Aku pun sadar, aku tak pantas. Tak kuhiraukan panggilan sang bapak, segera kulangkahkan kakiku keluar.

Aku tak tahu harus kemana. Rumah kardusku sudah tak ada. Udara semakin dingin karena hujan semalaman. Aku benar-benar tak tahu harus kemana.

Hingga setelah berjalan berputar-putar, sampailah aku kembali ke rumah itu. Rumah besar di ujung jalan.

Sepertinya pestanya sudah usai. Namun walaupun sepi dan gelap, rumah itu tampak bersahabat. Tak seperti rumah-rumah lain yang berkesan dingin, rumah besar di ujung jalan ini selalu tampak hangat.

Kakiku yang lelah dan badanku yang penat membuatku tak kuat lagi berjalan. Hanya satu harapanku untuk berteduh. Kulangkahkan kakiku ke rumah itu. Dengan gemetar tanganku membuka pintunya.

Dan di dalam sana, kulihat sebuah meja panjang penuh dengan makanan. Lilin dan bunga ada dimana-mana. Ternyata pesta itu belum selesai. Namun tak tampak lagi tamu-tamu disana. Yang ada hanya bapak yang punya rumah.

“Masuklah anakku. Aku telah menunggumu.”

Aku? Aku yang bau ini? Aku yang hina ini? Benarkah aku?

Aku, dan hanya aku, yang diundang ke pesta malam ini.

Kusantap semua makanan disana. Tak ada satupun yang tak enak. Sang bapak hanya tertawa melihatku kalap. Aku pun ikut tertawa. Kami bercengkerama, tertawa-tawa, sepanjang malam.

Hingga pagi menjelang, dan orang-orang mulai kembali datang. Kepanikanku pun kembali menerjang. Aku ingin beranjak pergi sebelum mereka mulai menghina. Tapi kakiku tak mau melangkah. Aku tak bisa jalan!

Ternyata bapak itu menahanku. Bapak itu berkata bahwa ini rumahku. Aku sudah pulang.

Apakah aku tak salah dengar? Ini rumahku? Aku boleh tinggal disini selamanya? Aku tak perlu lagi takut kedinginan? Aku tak perlu lagi takut kelaparan? Aku tak perlu lagi takut kehujanan? Aku tak perlu lagi takut dihina orang?

Sang bapak mengangguk dengan senyuman.

Dan aku merasa lega. Lepas. Ringan. Melayang.

Aku melayang! Aku melayang ke atas. Menuju ke arah cahaya.

Tapi tunggu, kulihat tamu-tamu yang lain sedang berkerumun. Dan disana kulihat diriku sendiri sedang tertidur. Tersenyum. Bahagia. Bahagia tiada tara.

Aku kembali menengadah. Terbang ke atas. Bersama Sang Bapa.

Aku sudah pulang.

(Fiction, by Arman, Los Angeles, March 19, 2009)

**********

Apakah hari ini kalian sudah menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan Sang Pencipta?