Filosofi Kadaluarsa

Dia bilang kalo perceraiannya itu karena hubungan mereka sudah kadaluarsa. Katanya semua itu ada kadaluarsanya, termasuk cinta. Katanya semua hal-hal besar yang terjadi dalam hidup (kelahiran, kematian, perjumpaan, perpisahan) punya benang merah yaitu perubahan. Katanya yang pasti hanya perubahan, yang lainnya gak ada yang permanen, termasuk hubungan cinta yang juga punya kadaluarsa. Katanya kita ini membekali diri dengan ilusi keabadian, ilusi yang berabad-abad kita pelihara sehingga terasa sebagai kebenaran, sehingga kita bahkan melibatkan Tuhan di dalamnya demi sakralitas. Katanya lagi bisa gak kita bayangkan apa jadinya kalo konsep ‘sehidup semati’ diletakkan di atas hukum perubahan? Di beberapa kasus dimana pernikahan cuma jadi ajang penganiyaan, larangan untuk berpisah karena janji sehidup semati tak lain tak bukan menjadi hukuman mati bagi pihak yang teraniaya.

Biasanya gua kalo ngebaca tulisannya, gua akan membacanya sambil manggut-manggut setuju dan kagum. Tapi kali ini gak begitu. Gua ngebacanya dengan dahi berkerut. Gua ngebaca gak sekali tapi tiga kali. Dan gua sangat gak setuju.

Kita menikah di hadapan Tuhan. Kita berjanji untuk sehidup semati di hadapan Tuhan. Kata-katanya yang bilang: ‘kita bahkan melibatkan Tuhan di dalamnya demi sakralitas’ kok jadi sepertinya mengecilkan arti kata ‘sakralitas’ itu sendiri ya? Justru karena sakral itu lah maka janji yang kita ucapkan di hadapan Tuhan itu harusnya melebihi janji-janji yang lain. Dalam artian kalo janji itu adalah sesuatu yang harus ditepati, apalagi kalo janji itu sakral, ya udah pasti harus ditepati banget!

Tapi dengan adanya konsep bahwa hidup ini adalah perubahan, yang berarti semua ada kadaluarsanya, termasuk hubungan percintaan, dan di saat cinta itu sudah kadaluarsa, pada saat itu lah janji yang sakral itu langsung dibenarkan untuk dilanggar. Segampang itukah? Kalau dengan alasan sesederhana itu sudah membenarkan untuk melanggar janji yang sakral, coba balik ditanya: jadi buat apa janji itu dulu dibuat? Toh semua orang tau kan kalo dalam hidup ini perubahan itu selalu ada? Kalo ada yang ngaku gak pernah tau apa yang namanya perubahan, jangan bilang kalo orang itu hidup. Semua orang hidup pasti merasakan yang namanya perubahan. Begitu juga saat dia dulu menikah, gua yakin dia tau bahwa perubahan itu ada. Kalo begitu, kenapa dulu dia berjanji? Berjanji untuk sehidup semati? Apa itu hanya janji-janji palsu belaka? Munafik dong namanya ya?

Sedemikian gampangkah orang berjanji di hadapan Tuhan? Cuma sekedar ngomong doang? Tanpa dipikirkan konsekuensinya untuk memegang janji itu? Trus apa kekuatan dari janji itu? Apakah berarti orang itu plin plan atau emang orang yang gak bisa dipercaya? Wah bahaya ya kalo semua orang seperti itu. Orang dengan mudah bisa berselingkuh dan dibenarkan. Cuma tinggal bilang, yah cintaku sudah berubah, cintaku ke kamu udah kadaluarsa, dan kamu harus menerima itu karena hidup ini adalah perubahan. Whaaatttt?? Kalo gitu gak perlu lagi ada pernikahan. Mau tinggal bareng ya kumpul kebo aja. Sewaktu-waktu bosen, ganti pasangan.

Gua gak nyangka kalo ucapan itu bisa keluar dari seseorang yang jalan pikirannya selama ini gua kagumi.

Trus dia menambahkan tentang penganiyaan. Kalau emang janji sehidup semati harus dipegang teguh, gimana dengan pernikahan yang udah menjadi ajang penganiyaan? Jelas ini konteks yang berbeda. Dia mau mencari pembenaran atas alasannya yang gak masuk akal dengan contoh yang tidak relevan. Kalo udah ngomong penganiyaan jelas udah berbeda, karena udah menyangkut kehidupan dan kematian. Ini urusan lain. Kalo udah menyangkut nyawa ya tentu beda prioritas. Bukan hanya perlu becerai, tapi yang menganiaya itu harus dilaporkan ke polisi dan harus dipenjara!!! Jadi jelas dalam hal ini perpisahan harus terjadi karena udah melanggar hukum. Yah kecuali kalo hukum tak lagi ada kekuatannya karena sudah kadaluarsa… πŸ˜›

Trus dia ngomong lagi soal anak. Dia bilang kalo orang gak akan bisa membahagiakan orang lain kalo dirinya sendiri tidak bahagia. Dia bilang kalo dia menikah bukan karena anaknya, dan kalaupun dia bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena anaknya.

Entah gua udah terlanjur gak suka atau gimana, tapi kok gua nangkepnya dia egois sekali ya? Jadi harus dia bahagia dulu tanpa mikirin anaknya bahagia atau tidak? Apa dia yakin kalo dia bahagia pasti anak nya bahagia? Gimana kalo ternyata anaknya bahagia di saat dia tidak bahagia? Apa dia yakin kalo hal itu gak mungkin terjadi? Kalo emang itu yang terjadi gimana? Anak itu juga individu lho, yang punya perasaan sendiri. Anak tidak selalu merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan orang tua nya. Jadi, sebagai orang tua, bila disuruh memilih lebih baik dia bahagia tapi anak gak bahagia atau lebih baik anak yang bahagia walaupun dia gak bahagia, dia milih yang mana? Kalo dibaca dari tulisannya sih keliatannya dia akan memilih dia yang bahagia terlebih dulu! Duh… kenapa kok dia jadi begini?

Trus seperti tentang penganiyaan dalam pernikahan tadi, dia kembali mengambil analogi lain untuk pembenarannya. Analoginya sekali lagi berhubungan dengan kondisi antara hidup dan mati yang mana menurut gua tentu saat itu prioritasnya (pada detik itu) udah berbeda (walaupun sebenernya prioritas dalam jangka panjangnya tetap sama). Dia ngambil analogi di saat pesawat dalam keadaan darurat, orang tua disuruh pake masker oksigen dulu sebelum makein anaknya! Wow… hebat sekali analoginya. Mungkin dia berharap orang akan terkagum-kagum pas ngebacanya ya!

Ya ampun… itu kan perbandingannya gak apple to apple toh ya! Kalo di saat pesawat lagi darurat, tentu orang tua harus pake masker dulu karena orang tua yang lebih bisa menyelamatkan anaknya dari bencana, bukan anak yang bisa menyelamatkan orang tuanya dong! Kalo katakanlah dalam waktu satu detik tau-tau kadar oksigen langsung drop sampe bahkan setelah si orang tua pake masker, dia gak sempet lagi makein masker ke anaknya, sehingga anaknya pingsan, si orang tua masih bisa mengusahakan ngasih napas buatan, atau kalo pesawat udah jatuh ke laut bisa ngebawa anaknya berenang ke kapal terdekat, atau apapun usaha lainnya untuk tetap menyelamatkan anaknya.

Bayangkan kalo kebalikannya. Si anak dipakein masker duluan dan begitu si anak udah pake masker… tau-tau kadar oksigennya drop dan orang tua nya pingsan. Si anak bisa apa? Ini ceritanya anak nya masih kecil lho, kalo anaknya udah gede mah dia bisa pake masker sendiri kan. Si anak kecil ini apa bisa menyelamatkan orang tua nya? Bahkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri pun diragukan kemampuannya. Orang lain udah ribet ama dirinya/anaknya sendiri-sendiri. Akhirnya si anak kecil gak ada yang nolong, akhirnya?? Ya lanjutin sendiri lah…

Sekali lagi analogi yang dipake sangat-sangat gak tepat dan gak bijaksana. Kayaknya tulisannya ditulis tanpa pikir panjang.

Dia begitu terlenanya dengan kata ‘perubahan’ dan menjadikan magic word itu jadi benteng dengan bersembunyi di belakangnya, sampe dia lupa kalo ada kata lain yang penting dan bahkan sangat penting untuk selalu diingat.

Tanggung jawab.

Yah, dalam pernikahan dan punya anak itu kita jadi punya tanggung jawab. Dalam pernikahan, kita punya tanggung jawab terhadap pasangan. Dan dalam hal punya anak, jelas kita punya tanggung jawab terhadap si anak. Kebahagiaan mereka adalah tanggung jawab kita. Kebahagiaan mereka adalah prioritas, karena kebahagiaan mereka menjadi kebahagiaan kita juga. Tanggung jawab ini yang menjadi senjata kita dalam menghadapi perubahan, supaya kita gak kalah sama perubahan. Orang berubah, sifat berubah, tapi dengan adanya tanggung jawab, kita jadi berusaha.

Contoh sederhananya nih, karena tanggung jawab, sang suami harus bekerja biar bisa membiayai kehidupan istri dan anak. Karena tanggung jawab, sang istri mengelola rumah tangga dengan baik supaya tidak lebih besar pasak daripada tiang. Karena tanggung jawab, si anak belajar dengan baik di sekolah supaya bisa naik kelas. Begitu banyak contoh-contoh yang lain sesuai kehidupan masing-masing.

Coba bayangkan kalo tanggung jawab itu tidak perlu ada dan kita mengikuti arus perubahan begitu saja. Sang suami karena merasa cape (tadinya gak cape tapi setelah abis kerja berubah jadi berasa cape) jadi gak mau kerja lagi, biarin aja istri anak nya gak bisa makan. Gak peduli, yang penting dia bahagia dulu. Kalo dia kerja, dia gak bahagia, nanti gimana dia bisa ngebahagiain istri dan anaknya? Sang istri karena rasa pengen (kemaren belum liat toko emas jadi belum pengen, sekarang berubah karena udah liat jadi pengen) jadi beli berlian seharga 100 juta walaupun gaji suaminya cuma 10 juta, dia mikir biarin aja ntar yang ditagih ama debt collector kan suaminya ini, mau masuk penjara ya biarin lah. Yang penting kan dia bahagia karena punya berlian gede, mau suaminya gak bahagia karena masuk penjara ya gak penting lah. Si orang tua karena ngeliat anaknya nakal dan malas belajar jadi berubah juga, merasa cintanya ke si anak udah kadaluarsa, jadi memutuskan untuk gak mau ngakuin anaknya lagi. Anaknya disuruh keluar dari rumah, mau jadi gelandangan kek ya terserah dia. Dan begitu banyak contoh lain yang bisa ditulis disini apabila kita takluk ama perubahan tanpa perlu memikirkan tanggung jawab.

Serem kan?

Balik lagi ke awalnya, menikah itu bukan keputusan sembarangan. Harus yakin 1000% dulu baru memutuskan untuk menikah. Demikian juga dalam hal punya anak. Harus dipikirin dulu bahwa semua itu ada konsekuensinya. Ada tanggung jawabnya. Kalo semua itu udah dipikirin terlebih dahulu, mudah-mudahan tidak ada yang namanya perceraian.

Well, gua gak tau apa sebenernya yang terjadi di balik perceraian dia. Gua gak sekepo itu juga untuk mau tau. Tapi mudah-mudahan tidak sesederhana hanya karena adanya perubahan seperti yang dia bilang. Karena kalo emang cuma karena itu, gua sedih juga melihat dia emang bener-bener udah berubah sekarang. Mungkin emang kebijaksanaannya udah kadaluarsa…

Iklan