Whimsical Dream

Badanku berguncang cukup keras. Berhenti sebentar lalu berguncang lagi.

Kubuka mataku dan tatapanku tertuju ke arah jendela kamar. Tirainya yang terbuka membuatku bisa melihat langit di luar sana yang masih gelap. Ah pasti semalam setelah selesai membaca novelnya, istriku lupa menutup tirai jendela.

Kembali badanku berguncang untuk kedua kalinya. Apakah ada gempa bumi? Tepat saat jam kuno di ruang tamu berdentang empat kali. Ah baru jam 4 pagi rupanya.

Ketika untuk ketiga kalinya badanku berguncang, baru aku menyadari bahwa tangan istriku lah yang membuat badangku terguncang-guncang.

Segera kubalikkan badanku, dan istriku sedang terduduk di ranjang berusaha membangunkanku.

“Ada apa?” Sungguh aku masih mengantuk.

“Aku baru bermimpi!” Istriku tersenyum manis sekali… Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat senyuman itu. “Aku bermimpi, ada seekor burung bangau terbang menghampiriku. Burung bangau itu membawa sebuah bungkusan di paruhnya. Bungkusan itu diletakkan persis di depan kaki ku sebelum dia terbang kembali. Bungkusan itu lalu terbuka, dan seorang bayi laki-laki yang lucu muncul dari dalam bungkusan itu!”

Aku diam saja. Tak tahu harus berkomentar apa.

“Itu sebuah pertanda! Aku yakin itu! Kita akan segera punya anak, sayang!”

Hah? Tak salah aku mendegar? Dia memanggilku sayang? Entah sudah berapa lama panggilan itu tak pernah aku dengar lagi. Sejak kita sudah menyerah 2 tahun yang lalu untuk tidak lagi mencoba segala macam pengobatan demi menimang seorang bayi yang tak pernah membuahkan hasil, tepat di hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-8. Sejak itu pula kehidupan kami mulai berubah. Rasanya semua berjalan hambar. Baik aku dan istriku, masing-masing menyibukkan diri dengan pekerjaan kami. Bekerja lembur dan pulang malam sudah jadi santapan sehari-hari. Sabtu Minggu hanya kami habiskan di rumah. Istriku membaca novel, sementara aku menonton TV. Rasanya sudah tak ada lagi hasrat untuk jalan-jalan ke Mal, malas bertemu teman dan keluarga. Mungkin takut luka itu kembali terbuka saat melihat anak-anak kecil yang lucu berlarian kesana kemari.

Tapi mimpi di malam itu merubah segalanya. Istriku yang tiba-tiba menjadi bersemangat dan riang gembira karena tetap merasa bahwa mimpi itu akan menjadi kenyataan, pada akhirnya berhasil membuatku tertular. Kehidupan kami bergairah kembali. Tak ada lagi lembur-lembur tak penting di kantor. Tak ada lagi tidur saling memunggungi. Tak ada lagi acara akhir pekan yang hambar. Semua tergantikan dengan makan malam romantis, jalan-jalan ke Puncak, gandengan tangan, dan pelukan mesra. Rasanya waktu berjalan mundur ke 10 tahun yang lalu! Rasanya seperti kembali pada masa-masa pacaran dulu. Dan aku bahagia. Kami bahagia.

Dan kebahagiaan kami itu pun semakin lengkap, ketika pada suatu hari, istriku menunjukkan hasil test kehamilan yang dilakukannya setelah 2 minggu terlambat datang bulan.

Istriku hamil! Mimpi di malam hari beberapa waktu yang lalu itu benar-benar menjadi kenyataan! Tak terbayangkan betapa senangnya kami berdua.

Dan sejak itu waktupun berputar sangat cepat. Kehidupan kami pun mulai berubah. Berubah menjadi sangat-sangat menyenangkan tentunya! Dari kunjungan-kunjungan ke dokter yang selalu kutunggu-tunggu karena itu saatnya aku bisa melihat si bayi kecil di layar USG, dari perjalanan dari mal ke mal untuk membeli barang-barang kebutuhan bayi, sampai pada hari kelahiran bayi laki-laki kami yang sungguh sangat lucu (sumpah baru sekali itu aku melihat bayi yang terlucu di dunia!), melihatnya belajar merangkak, menghadiri begitu banyak pesta-pesta ulang tahun anak-anak teman dan saudara, dan hingga sampailah pada hari ulang tahun pertama anakku!

Besok kami akan mengadakan pesta yang sangat meriah. Walaupun memakan anggaran yang cukup besar, tapi kami tak keberatan. Rasanya tak sabar ingin segera berganti hari esok, saat aku akan menggendong anakku dengan bangganya sambil menerima ucapan selamat dari semua undangan yang datang!

Memikirkan tentang pesta besok membuatku tak bisa tidur. Sementara istriku sudah terlelap sambil menggendong anakku yang ketiduran setelah menyusu. Ah pemandangan yang luar biasa indahnya… Melihat 2 manusia yang paling aku cintai di dunia ini…

Kukecup kening istriku, kukecup pipi anakku, sebelum akhirnya aku benar-benar jatuh tertidur… Rasanya malam itu aku tertidur sambil tersenyum…

Badanku berguncang cukup keras. Berhenti sebentar lalu berguncang lagi.

Kubuka mataku dan tatapanku tertuju ke arah jendela kamar. Tirainya yang terbuka membuatku bisa melihat langit di luar sana yang masih gelap.

Kembali badanku berguncang untuk kedua kalinya. Tepat saat jam kuno di ruang tamu berdentang empat kali. Ah baru jam 4 pagi rupanya.

Hmm… rasanya seperti dejavu.

Ketika untuk ketiga kalinya badanku berguncang, baru aku menyadari bahwa tangan istriku lah yang membuat badangku terguncang-guncang.

Segera kubalikkan badanku, dan istriku sedang terduduk di ranjang berusaha membangunkanku. Kupandangi sekeliling ranjang. Kemana anakku? Dia tak ada disini! Kemana ranjang bayi yang seharusnya ada di sebelah ranjang kami? Kemana mainan-mainan yang berserakan di lantai?

Apakah selama ini semuanya cuma mimpi? Ah… semuanya hanya mimpi. Sungguh aku menjadi sangat kecewa…

“Aku baru bermimpi!” Istriku tersenyum manis sekali… “Aku bermimpi, ada seekor burung bangau terbang menghampiriku. Burung bangau itu membawa sebuah bungkusan di paruhnya…”

Tapi… hey… aku ingat bahwa semua kejadian ini sama persis dengan mimpi ku barusan! Tirai jendela yang terbuka, jam berdentang empat kali, istriku yang membangunkan ku untuk menceritakan mimpinya, mimpi istriku tentang si burung bangau… Apakah ini benar-benar pertanda bahwa mimpi ku akan menjadi kenyataan?

“Lalu, apakah bungkusan itu diletakkan di kakimu?” tanyaku penuh antusias.

“Iya! Bungkusan itu diletakkan persis di depan kaki ku sebelum dia terbang kembali. Bungkusan itu lalu terbuka…”

“Lalu… apa isinya?” Jantungku berdegup kencang sekali saking senangnya…

“Kosong…”

* Burung Bangau, Fiction, written by Arman Tjandrawidajaja, Jakarta, 2002
* Whimsical Dream, Song, originally composed by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, July 26, 2010

Copyrights, all rights reserved

**********

Ada yang pernah punya pengalaman mimpi (mimpi yang bunga tidur ya, bukan mimpi dalam artian angan-angan) menjadi kenyataan? Gua so far belum pernah lho punya mimpi yang terus beneran jadi kenyataan, soalnya biasanya gua mimpinya selalu aneh-aneh. Hehe. 😀

PS. If you can’t view the video, please click here.

PS lagi. Setelah 8 bulan, akhirnya berhasil nulis lagu lagi nih. Hehehe. Please let me know what you think, ok? Any feedbacks/comments are highly appreciated. Thank you!! 🙂

[tweetmeme source=”ArmanTjandra” only_single=false]