Something That Money Can’t Buy

Tau kan slogan nya Mastercard itu?

Jaman gini, apa sih yang gak bisa dibeli ama uang? Rasanya kalo ada uang, semua pasti jadi beres.

Terus terang, gua orangnya suka sirik kalo ngeliat orang-orang kaya. Gua tau, ada banyak orang yang lebih menderita dari gua, dan gua harusnya bersyukur atas semua yang gua udah punya. Gua tau kok, dan gua bersyukur banget atas semua yang Tuhan kasih ke gua. Banget-banget malah. Tapi entah kenapa ya, refleks sirik itu kok tetep ada. πŸ™‚

Ngeliat orang yang dikit-dikit ke luar negeri. Ke Amerika/Eropa udah kayak ke Bandung aja. Rumah pun segede-gede gaban. Ada kolam renang, bahkan ada yang ada lapangan tennis nya. Kerja pun gak pusing, tinggal ikut bapaknya. Keuangan terjamin. Bahkan uang bulanan pun masih ditanggung ortu nya. Rumah disediain. Mobil juga. Semua lengkap. Pembantu, supir, suster berlimpah. Keluar masuk butik bermerk. Bahkan kamar tidurnya pun lebih gede dari rumah gua. Duh senengnya ya…. Gimana gak sirik coba? πŸ™‚

Tapi, kemaren, salah seorang itu justru tanya ke kita, apa sih rahasianya sampe kehidupan perkawinan kita bisa selalu bahagia?

Hah? Ternyata orang yang gua sirikin itu justru iri ama kita. Kita yang rumahnya kecil ini. Kita yang pas-pas-an ini. Kita yang bahkan kalo diajak ngumpul-ngumpul gak selalu bisa ikut karena budget kita gak cukup untuk ngikutin acara ngumpul-ngumpul mereka.

Gak salah nih??

Ternyata bergelimangan harta gak bisa membeli kebahagiaan. Ternyata bergelimangan harta gak bisa membeli cinta. Ternyata karena takut diputus hubungan oleh sang ortu, si suami gak berani membela istrinya, gak berani memperjuangkan kelangsungan rumah tangganya sendiri. Ternyata dia lebih rela istrinya dikorbankan. Ternyata sang istri selama ini selalu menjadi korban perasaan. Semua karena takut kehilangan harta.

Padahal menurut gua, definisi cinta itu adalah can’t live without. Jadi harusnya kalo si suami cinta dengan istrinya, dia akan memperjuangkan sekuat tenaganya untuk tetap mempertahankan istrinya dong. Begitu pula sebaliknya. Tapi ini malah mereka sudah hampir menyerah. Putus asa. Dia sudah rela untuk melepaskan, katanya. Kenapa? Karena sang suami takut kehilangan harta (ini bukan katanya – tentu saja, tapi dari ceritanya saja sudah lebih dari jelas).

Jadi ternyata harta bukan jaminan. Bukan jaminan mendapatkan cinta. Bukan jaminan mendapatkan bahagia.

So, is there something that money can’t buy?

Yes, there is. And I can proudly tell you that I have it! πŸ™‚ Please God, let me have it forever…

~ Semoga si teman diberi kekuatan dan diberi jalan keluar supaya rumah tangganya bisa dipertahankan. ~

Iklan